• tema favorit

Solusinya mudah saja – olahraga !

Baru-baru ini (21 April) di majalah online Der Spiegel, bahasa Jerman terdapat sebuah artikel berjudul “Faul macht dumm” atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “Malas membuat orang jadi bodoh”. Ya, kata-kata yang biasa saja, namun tulisan tersebut (penulis Jorg Blech, http://www.spiegel.de/spiegel/0,1518,548638,00.html) cukup panjang lebar membahas pandangan-pandangan terbaru dan menarik dari pakar kesehatan dan para peneliti dunia berbagai disiplin, mereka terutama berasal dari Amerika dan Jerman.

Lamban atau bermalas-malasan membebani kesehatan mental: Orang-orang yang kurang bergerak, menurut studi mereka berisiko tinggi terkena penyakit Parkinson, Alzheimer, atau Depresi. Berolahraga adalah cara pengobatan yang terbaik untuk mengatasi kerusakan otak.

Menurut saya, tulisan Blech sangat menarik, dapat dijadikan dasar pemikiran untuk kita semua, bagaimana sebaiknya mengambil manfaat dari tulisannya, serta mencoba menerapkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tidaklah mudah bagi kita untuk merubah suatu kebiasaan hidup, dan tiba-tiba timbul kesadaran baru tentang kesehatan dan ingin secepatnya merubah gaya hidup.

Fernando Gomez-Pinilla, pakar Neuroscince dari University of California, Los Angeles, banyak melakukan penelitian hubungan antara bergerak dan kesehatan otak (Bila Anda tertarik dengan tulisannya lebih jauh, silakan gunakan search pada PubMed.). Gaya hidup yang banyak berdiam dan duduk membahayakan kesehatan otak. Tubuh manusia membutuhkan pergerakan minimum agar otak bekerja normal, dan ini adalah peninggalan dari perkembangan manusia, nenek-moyang kita, yang asal mulanya pemburu dan harus selalu bergerak mencari makanan. Bermalas-malasan tidak menguntungkan kesehatan otak, dan menyebabkan metabolism otak melambat dan ini merupakan awal dari banyak jenis penyakit. Selama ini kita khawatir dengan jenis penyakit seperti peredaran darah, punggung sakit, tulang rapuh, diabetes dan kaki membengkak, disebabkan kurangnya bergerak. Kini bertambah banyak lagi dengan penyakit pada otak, berkurangnya sel otak, melemahnya daya ingat, Parkinson disease, dementia, dan depresi, yang ternyata disebabkab terlalu banyak duduk dan malas-malasan.

Gene tubuh kita telah terbentuk sedemikian rupa dan menginginkan bahwa kita bergerak. Dengan adanya pergerakan yang minimum dan memberikan feedback pada organ tubuh kita, ini akan berpengaruh positif terhadap kesehatan otak, demikian menurut Thoma Tolle, 48, ahli Neurologi dan Psykologi dari Technische Universitaet Munich, Jerman. Seminggu sekali melakukan jogging, sama efektifnya dengan menggunakan100 mg betabocker, dan pasiennya pun kini diberi alternatif tersebut dan mencoba pengobatan yang murah dengan bergerak badan, komentarnya.

Dan ini membuat Carl Cotman, pakar Neuroscience dari California sampai pada kesimpulan, bahwa olahraga menjadi suatu perkembangan strategi terapi yang sangat menarik, dikarenakan pengertian bergerak penting bagi kesehatan otak.

Psychiatry, John Ratey, 60 dari Cambridge, Amerika, malah berbuat hal yang proaktif, bagi pasiennya yang datang berobat, diharuskan naik tangga dua lantai untuk mencapai ruang prakteknya. Baru tidak lama ini, pengobatan penyakit syaraf masih tetap berkutat di sekitar penggunaan obat, tutur Ratey, dan ia sendiri pernah aktif memberikan ceramah-ceramah bagi banyak perusahaan Farmasi raksasa. Ratey yang juga memberi kuliah pada Harvard Medical School, mulai sadar, setelah melihat bertambah banyaknya tulisan yang mengisyaratkan pengaruh positif bergerak terhadap organ berpikir kita. Kini ia sendiri aktif mengunjungi tempat fitness, dan tiap ada kesempatan ia akan memberikan saran yang sama, entah apa saja masalah si pasien, dari awal, yang dianjurkannya adalah berolahraga, dan ini menurut keyakinannya yang beralasan kuat, akan membantu mengatasi masalah kejiwaan atau mental.

Belum lama ini, tulisan pada textbook masih mengatakan bahwa pergerakan otot tubuh tidak mempengaruhi peredaran darah pada otak, kata Wildor Hollman, 83, dari Deutsche Sporthochschule Koln, dan ia sempat melakukan percobaan pada 12 anak muda laki-laki yang sehat, mereka disuruh mengayun pedal sepeda ber-speedometer di ruang fitness. Alhasil membuktikan gerakan demikian meningkatkan peredaran darah pada otak hingga 30 persen, dan selanjutnya penelitian memberikan gambaran lebih jelas, peningkatan peredaran darah pada otak, memberi efek penambahan pembuluh darah baru di otak, kurang lebih di sekitar daerah cortex, otak kecil, dan hippocampus.

Apa yang terjadi dengan peningkatan peredaran darah pada otak? Bila tubuh bergerak, bagian otak tertentu menjadi aktif dan pada sel-sel otak terjadi produksi bermacam-macam protein. Dari hasil percobaan hewan diketahui banyak dari protein itu merupakan growth factor dan ini berfungsi seperti pupuk bagi otak. Protein atau peptida seperti VEGF (vascular endothelial growth factor, wikipedia) dan IGF-1 (Insulin-like growth factor 1, wikipedia) dapat memacu pembentukan pembuluh darah baru. Protein BDNF (brain-derived neurotrophic factor, wikipedia) menstimulasi pertumbuhan sel otak yang baru pada hippocampus, dan membantu menjaga penyimpanan daya ingat jangka panjang dari gangguan geger otak.

Produksi protein dengan nama VGF (nerve growth factor inducible, wikipedia)meningkat, bila mencit berlari pada roda berputar, penemuan Ronald Duman, dokter ahli syaraf dari Yale University. VGF berfungsi pada sistem pengontrolan sel otak dan memiliki efek farmakologi seperti obat antidepresif. Tolle juga menemukan sesuatu dari otak bagian tertentu para pelari jogging, setelah berlari selama 2 jam. Hasil scan otak (Positron Emmision Tomography, PET) menunjukkan pada daerah otak tertentu, pada bagian untuk proses mood atau perasaan, serta proses menekan rasa sakit, terbentuk dengan intensif senyawa endorphin. Padahal tanpa ada penjelasan ilmiah yang nyata pun kaum muda telah mempraktekkan dan sering merasakan “wah” dan segar bugar, setelah jogging, memanjat tebing, ataupun bersepeda. Ini dibuktikan oleh Henning Boecker, 42, peneliti di Universitaetklinik Bonn, Jerman, secara ilmiah, bahwa meningkatnya perasaan euphoric seiring dengan meningkatnya produksi endorphin pada otak. Perasaan bahagia dan selalu beredarnya “pupuk” otak, ditilik dari segi evolusi, sebetulnya merupakan sesuatu yang wajar-wajar saja, mengingat manusia purba selalu berjalan dan bergerak. Setelah melakukan training seminggu, kadar growth factor meningkat menonjol, dan mulai menunjukkan pengaruhnya pada sistem kognitif otak.

zinio10550021

Bayangkan, manusia modern telah seberapa jauh meninggalkan kebiasaan hidup manusia purba, mereka rata-rata berjalan kaki 40 km tiap harinya (manusia modern rata-rata hanya berjalan kaki 1,5 km), dan 40 persen lebih banyak menghabiskan energi daripada manusia modern. Kurangnya bergerak menyebabkan bermacam-macam penyakit gangguan mental. Suatu studi (Ahli neurologi Hansjorg Bazner, Kilinikum Mannheim, Jerman, beserta 10 kollega dari pusat penelitian lain di Eropa) terhadap 600an orang tua menunjukkan hasil scan otak mereka, terutama mereka yang susah bergerak dan mudah hilang keseimbangan badan karena gangguan mental, perubahan pada “white matter” di otak. White matter (wikipedia) adalah bagian dari penghubung antar sel otak, dan bertanggung jawab seperti saklar pengontrolan bagi otak. Menurut penemuan awal, Bazner mengatakan, dengan melakukan training white matter tersebut dapat dijaga stabil keberadaannya.

Pada awal perkembangannya pasien Alzheimer menunjukkan gerakan yang lamban, ini merupakan hasil studi di Jepang terhadap 800an pasien di atas usia 65 tahun, selama 7 tahun. Kecendrung menderita dementia adalah mereka yang kurang bergerak. Di Swedia dilakukan juga studi terhadap 1500 peserta pria dan wanita, terbukti, melakukan olahraga ringan dapat memperlambat terjadinya Alzheimer. Bila mereka melakukan olahraga 2 kali seminggu, kelaknya risiko terkena Alzheimer akan menurun hingga 60 persen. Ronald Petersen dari Mayo Clinic Alzheimer’s Disease Research Center, Rochester, Minnesota, USA, membuat pernyataan lebih jauh lagi, berolahraga secara teratur merupakan cara preventif terbaik, lebih baik daripada menggunakan obat, lebih baik daripada kegiatan mental, dan lebih baik daripada makanan yang sehat.

Sampaikan terhadap pasien yang hampir lumpuh tidak bisa jalan pun, para dokter coba mencari cara untuk memberi rangsangan pada otak, seperti pelakuan pada Universitaet Fankfurt, Jerman, ahli pengetahuan olahraga, Christian Haas, memberikan vibrasi selama 60 detik kepada pasien Parkinson. Getaran itu tidak hanya mengaktifkan otot, tetapi juga memberi rangsangan pada otak untuk memproduksi growth factor dan senyawa sejenisnya. Percobaan dengan 68 pasien Parkinson, setelah terapi vibrasi 5 kali satu menit lamanya, gejala penyakit turun sebanyak 17 persen.

Akhirnya, kurang pergerakan juga dihubungkan dengan penyakit depresi. Peneliti di Amereka melakukan studi terhadap 1900 peserta selama 8 tahun, dan mereka awalnya sehat-sehat saja. Hasil menunjukkan mereka yang kurang bergerak cenderung 2 kali lebih banyak terserang depresi. Yang menarik, penelitian tersebut dilakukan juga terhadap siswa sekolah menengah pertama oleh Rod Dishman, ahli pengetahuan olahraga dari University of Geogia, Athens, USA. Sekitar 4600 pelajar diamati selama 2 tahun, terbukti mereka yang kurang aktivitas olahraga, lebih sering dalam suasana depresif.

Bertambah banyak psychiater kini mempraktekkan olahraga mengayun pedal sepeda ketimbang terapi pembicaraan berbaring di couch. Peneliti bidang exercise, Andrea Dunn melatih 80 peserta dengan ciri-ciri bergerak lamban dan terkena depresi selama 8 minggu menggunakan trett-mill dan ayun pedal sepeda, konsumsi energi setara dengan berjalan kaki selama 30 menit. Hasil menunjukkan, rata-rata gejala mereka menurun sebanyak 47 persen, dan 42 persen peserta malahan menunujukkan hilang sama sekali gejala penyakitnya. Terapi demikian hasilnya serupa dengan penggunaan obat, dan keuntungan lainnya, sama sekali tidak ada efek sampingan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: