• tema favorit

Pola makan “Western diet” penyebab metabolic syndrome

Beberapa waktu lalu (22 Januari 2007) Heartwire meluncurkan berita dengan judul ” Two hamburgers, an order of fries, and the metabolic syndrome to go, please!“, hasil interview Michael O’Riordan dengan Dr. Lyn Steffen, salah satu peneliti utama yang menulis artikel “Dietary intake and the development of the metabolic syndrome” (Circulation, 2008). Hasil studi yang meyakinkan, setelah menelusuri dan mengalisa data selama 9 tahun. Amerika memang negara yang sangat menonjol dengan gaya hidup yang serba instan dan Hamburger telah sejak lama menjadi simbol negara tersebut dan sering dikonotasikan sebagai “junk food“. Kasihan tuh, negara yang akhir-akhir ini banyak dilanda masalah ekonomi sub-prime, dan nanti mungkin timbul lagi masalah credit card. Bangkrutlah!

Munurut Dr. Lyn Steffen, pola makan “western diet” secara keseluruhan ciri-cirinya banyak memakan daging (red meat) yang diproses, goreng-gorengan, tepung-tepungan yang dikelola (refined grains. Yang dimaksud di sini berupa tepung berasal dari gandum), telur, dan minuman mengandung soda, tetapi di lain pihak sangat terbatas mengkonsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, ikan, dan tepung-tepungan yang tidak dikelola (whole grains). Pola makan demikian dapat dilihat risikonya menjadi metabolic syndrome.

Metabolic syndrome diikuti dengan peningkatan beberapa parameter pada tubuh yang diindikasikan sebagai faktor berisiko, yaitu bertambahnya ukuran pinggang (waist), tekanan darah, fasting glucose levels (kadar gula glukosa sewaktu pengetesan), triglicerida, dan low HDL cholesterol . Namun secara keseluruhan belum dapat dipastikan peranan makanan yang disebut di atas terhadap gejala metabolic syndrome. Disampaikannya, pola makan yang baik yalah banyak mengkonsumsi sayur-sayuran, kol, lobak, brokoli, wortel, labu, cabai merah, banyem, serta buah-buahan, ikan, daging jenis unggas (poultry), tepung-tepungan yang tidak dikekola (whole grains), susu berkadar lemak rendah. Pola makan yang baik ini tidak mununjukkan gejala berbahaya tersebut.

Studi yang diberi nama Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) ini diikuti dengan jumlah peserta sebanyak 9514. Hasilnya menunjukkan 40% peserta terjangkit metabolic syndrome. Setelah memasukkan beberapa faktor demografi seperti merokok, kegiatan, dan energi yang dikonsumsi, maka didapat angka 18% peserta menjadi berisiko metabolic syndrome. Bila memasukkan faktor mengkonsumsi makanan yang baik seperti disinggung di atas, jelas-jelas daging, goreng-gorengan dan minuman mengandung soda (diet soda) merupakan faktor penyebab gejala. Sedangkan konsumsi susu mengindikasikan memproteksi dari gejala tersebut. Mengkonsumsi diet soda, karena sudah merasa aman sehingga tidak membatasi kwantitas konsumsi camilan. Kemungkinan, menurutnya, ada sesuatu faktor pada camilan yang menyebabkan insulin resistance.

Secara terperinci, lanjut DR. Lyn Steffen, 2 kali sehari konsumsi daging faktor risiko meningkat menjadi 26% dibandingkan dengan mereka yang konsumi 2 kali seminggu. Begitu pula dengan goreng-gorengan meningkat menjadi 25%. Biarpun diet soda tanpa kalori juga mengindikasikan peningkatan gejala. Kemungkinan karena merasa tidak ada kalori di minuman, maka menambahkan camilan lebih banyak dengan tanpa perasaan bersalah.

Secara keseluruhan, menurutnya, perlu memikirkan strategi pola makan yang baik untuk mengatasi kecendrungan gejala ini, dan tidak hanya menitik beratkan pada beberapa jenis makanan dan nutrisi. Acuan dietary dari American Heart Association, menurutnya patut dilakukan, tiap hari makan 5 sampai 9 kali buah-buahan dan sayur-sayuran, ditambah lagi dengan 2 kali susu kadar lemak rendah dan 3 kali tepung-tepungan yang tidak dikelola.

Bagaimana menurut Anda pola makan yang dilakukan sehari-hari. Jangan main-main lho! Kalu hanya satu atau dua kali aja makan dengan pola yang salah. Tetapi bila sudah menjadi kebiasaan, serba instan dan rasanya keren kalu makan gaya modern (alias western diet), wah, tau2 timbul gejala tidak sehat, yah entah, lalu mulai menuding sesuatu yang sifatnya bukan primer sebagai penyebabnya.

Sumber

  1. AP-Food Technology.com: Western diet pattern “promote metabolic syndrome”, 08-Feb-2008.
  2. Heartwire (theheart.org): Two hamburgers, an order of fries, and the metabolic syndrome to go, please! January 22, 2008.
  3. Lutsey PL, Steffen LM, Stevens J. Dietary intake and the development of the metabolic syndrome. Circulation 2008; DOI:10.1161/circulationaha.107.716159. Available at: http://circ.ahajournals.org.
  4. Dhingra R, Sullivan L, Jacques PF, et al. Soft drink consumption and risk of developing cardiometabolic risk factors and the metabolic syndrome in middle-aged adults in the community. Circulation 2007; 116:480-488.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: