<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Minuman energi</title>
	<atom:link href="http://stresslenyap.wordpress.com/2008/06/07/minuman-energi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://stresslenyap.wordpress.com/2008/06/07/minuman-energi/</link>
	<description>Topik utama stress, kesehatan, and nutrisi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Feb 2009 05:29:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Minuman energi</title>
		<link>http://stresslenyap.wordpress.com/2008/06/07/minuman-energi/#comment-35</link>
		<dc:creator>Minuman energi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 16:06:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://stresslenyap.wordpress.com/?p=119#comment-35</guid>
		<description>[...] jonsquared wrote an interesting post today onHere&#8217;s a quick excerptSedikit pendahuluan sebelum Anda membaca tulisan di bawah ini. Saya selalu teringat dengan pepatah kuno, bila kita melakukan sesuatu, janganlah overacting, ini berlaku juga untuk pemberitaan. Penulisan berita jangan membuat orang bertanya-tanya atau bersifat sensasi, yang kebanyakan cara demikian malah membingungkan pembaca. Alhasil pun tulisan demikian dinilai tidak bermanfaat, dan blog nya pun berlabel tidak baik. Ini yang perlu saya hindari. Kembali lagi ke pepatah kuno, yang satu menceritakan: seseorang ingin menggambar ular, namun melihat ular kasihan tidak berkaki, lalu dibubuhinyalah kaki pada gambaran sang ular. Apa yang terjadi, jelas salah kaprah, bukan ular yang digambar, tetapi menjadi gambaran kadal atau biyawak. Pepatah kedua yalah, kembali lagi cerita ular yang lebih sering dikenal di antara kita semua, seseorang berlari-lari menuju ke temannya yang lebih dewasa, sambil berteriak-teriak mengatakan, &#8220;Bang, bang, saya ketemu ular di sana, besar dan panjang sekali. Besarnya seperti batang kelapa, dan panjangnya, ya hampir setinggi pohon [&#8230;] [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] jonsquared wrote an interesting post today onHere&#8217;s a quick excerptSedikit pendahuluan sebelum Anda membaca tulisan di bawah ini. Saya selalu teringat dengan pepatah kuno, bila kita melakukan sesuatu, janganlah overacting, ini berlaku juga untuk pemberitaan. Penulisan berita jangan membuat orang bertanya-tanya atau bersifat sensasi, yang kebanyakan cara demikian malah membingungkan pembaca. Alhasil pun tulisan demikian dinilai tidak bermanfaat, dan blog nya pun berlabel tidak baik. Ini yang perlu saya hindari. Kembali lagi ke pepatah kuno, yang satu menceritakan: seseorang ingin menggambar ular, namun melihat ular kasihan tidak berkaki, lalu dibubuhinyalah kaki pada gambaran sang ular. Apa yang terjadi, jelas salah kaprah, bukan ular yang digambar, tetapi menjadi gambaran kadal atau biyawak. Pepatah kedua yalah, kembali lagi cerita ular yang lebih sering dikenal di antara kita semua, seseorang berlari-lari menuju ke temannya yang lebih dewasa, sambil berteriak-teriak mengatakan, &#8220;Bang, bang, saya ketemu ular di sana, besar dan panjang sekali. Besarnya seperti batang kelapa, dan panjangnya, ya hampir setinggi pohon [&#8230;] [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
